Pekerjaan membuatku menghubungi berbagai institusi dan organisasi di Jakarta.
Salah satunya adalah yang bernama, sebut saja Yayasan Nurani Dunia (
nama yayasan tidak disamarkan).
Berhubungan dengan sang HUMAS, yang bernama Bapak Ahmad saya berhasil membuat
jadwal untuk syuting greetings interview dengan sang yayasan.
Di siang hari yang dijadwalkan, saya dengan keringat yang cukup, sampai di
yayasan yang sudah disebutkan di atas, bertemu seorang pria berusia 40 akhir,
berbincangbincang sejenak, lalu aku melontarkan pertanyaan, “Iya.. jadi nanti
pak… emm.. ini dengan Bapak Ahmad?” (
asumsi-ku si bapak adalah sang Humas, yang terdahulu berkontak denganku)
Kronologi kejadian dengan waktu yang sangat singkat Terbersit rasa heran saya melihat mimic sang bapak yang ternyata bermakna: Sang
bapak kaget karena aku bertanya apakah dia Bapak Ahmad, yang artinya saya tak
mengenali dia ataupun wajahnya.
Lalu... Bapak: “Bukan.. saya Imam Prasojo. Kacau ni anak, wartawan… ga pernah nonton TV
ya.”
Saya: “hehehe… ngga…” (
tertawa tanpa menutupi ketidaktahuan saya, campur heran kok si bapak merasa sangat yakin semua orang atau yang dia ‘anggap’ wartawan harus tahu dirinya)
Imam Prasojo: “Kamu dulu kuliah di mana?”
Saya: “IKJ”
Imam Prasojo: “Jurusan apa?”
Saya: “Seni Grafis”
Lalu pertanyaan Imam Prasojo berlanjut:
- kamu tau ini…
- tau si itu bapak ini???
- Kalo si anu tau?
- Ah masa… ada.
Serentet jawaban saya:
- tidak
- sepertinya ga ada si Bapak anu
- tidak tahu,
- ya, saya tahu.
- oh ya ya… saya blom pernah ketemu
Percakapan berlangsung sembari diselingi Imam Prasojo
yang-seharusnya-saya-tahu, tidak tahu dan salah mengira kalau jurusan saya, seni grafis, adalah sama dengan design grafis (
seperti yang biasa terjadi pada kebanyakan orang lainnya).
Selama pertemuan itu saya
yang-kurang-pengetahuan, berfikir siapa si Bapak… saya tanya
kameramen yang saat itu di sisi. Tapi dia juga kurang tahu, hanya sempat dia
berkata pada bapak itu, ”
ohh… pantesan saya kayanya sering liat bapak, tapi ga begitu ngeh juga” yang menurut saya, “
hey itu malah semakin menjelaskan kalau dia memang tidak seterkenal Sumanto” (
padahal kalau ketemu Sumanto di jalan saya juga ga sadar sih, ga hafal wajahnya juga)
Saya amat-amati wajahnya yang memang bukan untuk mengingat-ingat tapi untuk
mereka-reka, si Bapak yang terlihat humble atau ingin humble ini, tapi ternyata
ingin diakui dan menampilkan ketinggian hatinya untuk harus dikenali oleh
orang-orang yang dia ‘anggap’ wartawan… mengapa? Yang mana dirinya sebenarnya?
Sekilas kejadian dan perbincangan ini membuat saya
yang-kurang-pengetahuan penasaran, pulang-pulang saya sibuk tanya orang-orang kanan kiri;
- Kamu tahu Imam Prasojo?
- Eh lo tau Imam Prasojo ngga?
- Tahu Imam Prasojo kah?
- Ada yang tahu Imam Prasojo?
- Heyyy geng! Kok ga ada yang jawab?
Suatu ketika seorang menyahut pelan tanpa mengalihkan padangan dari layer komputernya,
"Siapa dia?"
Saya
yang kurang ingin penge-tahu-an browsing mencari tahu dan mendapatkan
jawabannya pada sebuah tulisan:
Dr Imam Budidarmawan Prasodjo - Sosiolog yang Dikira Sombong Menjadi pemandu talk show hanya salah satu dari setumpuk kegiatan sehari hari
sosiolog tamatan Brown University, Rhode Island, AS ini. Menjadi pembicara di
berbagai forum seminar atau menulis kolom, adalah kegiatan lain yang dijalani
laki laki kelahiran Purwokerto ini. Pria yang dikira sombong oleh beberapa
jurnalis, ini memang orang yang lebih banyak bicara dan seperti mengetahui
segalanya….
Untuk artikel lebih lanjutnya silahkan klik ke
http://www.e-ti.com/ensiklopedi/i/imam-prasodjo/index.shtml Dengan ini saya membuat si Bapak Imam Prasodjo sang sosiolog/budayawan menjadi lebih terkenal, agar mengurangi orang-orang seperti saya - teman-teman - orang-orang di sekeliling saya yang kurang tahu atau kurang ingin tahu... Agar mengurangi orang-orang yang Imam Prasodjo bilang “kacau ni orang…”